7 Alternatif GNOME Terminal Terbaik di Ubuntu

7 Alternatif GNOME Terminal Terbaik di Ubuntu

Bitnesia Linux Sep 6, 2026 2 EN

GNOME Terminal sudah lama jadi aplikasi terminal emulator bawaan di banyak distribusi Ubuntu. Fungsinya cukup untuk kebutuhan dasar: buka shell, jalankan perintah, selesai. Tapi begitu kebutuhan kita mulai bertambah, misalnya split pane yang fleksibel, tab dengan tampilan modern, atau rendering teks yang cepat lewat GPU acceleration, GNOME Terminal mulai terasa terbatas.

Kabar baiknya, mulai Ubuntu 26.04 LTS "Resolute Raccoon", Canonical sendiri sudah mengganti default terminal dari GNOME Terminal ke Ptyxis. GNOME Terminal dan beberapa alternatif lain tetap tersedia di repository, tapi statusnya bukan lagi aplikasi utama.

Artikel ini membahas 7 alternatif terminal yang paling relevan untuk dipakai di Ubuntu: developer yang butuh workflow container, sysadmin yang mengelola banyak server sekaligus, sampai user yang cuma ingin terminal ringan dan cepat. Setiap aplikasi dibahas lengkap dengan kelebihan, kekurangan, dan cara instalasinya.

1. Kriteria Memilih Terminal Pengganti

Sebelum masuk ke daftar aplikasi, ada baiknya kita sepakati dulu tolok ukur yang dipakai untuk membandingkan tiap terminal. Lima kriteria ini juga jadi dasar tabel perbandingan di bagian akhir artikel.

  • Performa dan GPU acceleration: apakah terminal merender teks lewat hardware GPU (lebih cepat, terutama saat scroll cepat atau output besar) atau masih murni lewat CPU.
  • Split pane dan tab native: apakah kita bisa membagi jendela jadi beberapa panel tanpa tool tambahan seperti tmux, atau justru harus mengandalkannya.
  • Kustomisasi: seberapa mudah mengubah tema, font, dan keybinding, baik lewat GUI maupun file konfigurasi teks.
  • Kemudahan instalasi di Ubuntu: apakah tersedia lewat apt langsung, harus lewat snap/flatpak, atau butuh repository tambahan.
  • Integrasi dengan desktop GNOME: seberapa native tampilannya menyatu dengan tema sistem, termasuk dukungan dark mode otomatis.

2. Daftar Alternatif Terminal

1. Ptyxis

Ptyxis adalah terminal emulator berbasis GTK4 dan libadwaita yang sejak Ubuntu 26.04 LTS resmi menggantikan GNOME Terminal sebagai aplikasi default. Ptyxis dibangun dengan fokus pada workflow container: kita bisa membuka tab baru langsung di dalam Podman, Toolbox, atau Distrobox tanpa perlu menjalankan podman exec secara manual.

Kelebihan:

  • Tampilan modern, menyatu penuh dengan tema GNOME termasuk dark mode otomatis.
  • Integrasi container-aware jadi nilai jual utama untuk developer yang sering kerja di dalam container.
  • Ada fitur tab pinning, saved session, scrollback search dengan filter regex, dan terminal inspector untuk debugging.
  • Ringan karena dibangun di atas library GTK4/libadwaita yang sama dengan aplikasi GNOME lain.

Kekurangan:

  • Fitur split pane belum sefleksibel Tilix atau Terminator, karena Ptyxis lebih mengandalkan tab ketimbang tiling grid.
  • Versi terbaru Ptyxis membutuhkan GTK4 dan libadwaita versi baru, sehingga tidak semua rilis lancar di-build di Ubuntu versi lama seperti 24.04.

Cara instal di Ubuntu:

Di Ubuntu 26.04 LTS, Ptyxis sudah terpasang sebagai terminal default sehingga tidak perlu instalasi tambahan. Untuk Ubuntu versi lebih lama seperti 24.04, cara paling aman adalah lewat Flatpak karena versi Ptyxis terbaru butuh library GTK4/libadwaita yang lebih baru dari yang tersedia di apt.

  1. Pasang Flatpak jika belum ada.
    sudo apt install flatpak
  2. Tambahkan remote Flathub.
    flatpak remote-add --if-not-exists flathub https://flathub.org/repo/flathub.flatpakrepo
  3. Instal Ptyxis.
    flatpak install flathub app.devsuite.Ptyxis
  4. Jalankan dengan perintah berikut, atau lewat menu aplikasi.
    flatpak run app.devsuite.Ptyxis

2. Tilix

Tilix adalah terminal tiling berbasis GTK yang sudah lama jadi favorit sysadmin dan developer yang sering bekerja dengan banyak sesi shell sekaligus. Fitur andalannya adalah kemampuan membagi jendela jadi grid pane lewat drag-and-drop, plus mode quake (dropdown) yang bisa dipanggil dengan satu shortcut.

Kelebihan:

  • Split pane native tanpa perlu tmux, dan bisa diatur ulang cukup dengan drag-and-drop.
  • Integrasi tema GNOME cukup baik, termasuk dukungan variabel warna dari GTK theme yang sedang aktif.
  • Mendukung session saving, jadi tata letak pane bisa dipulihkan setelah terminal ditutup.

Kekurangan:

  • Pengembangan aktifnya sempat mangkrak selama beberapa tahun sebelum kembali mendapat update, jadi perlu dicek apakah rilis terbarunya masih sinkron dengan versi GTK terkini.
  • Bukan terminal dengan GPU acceleration, jadi soal kecepatan rendering kalah dari Kitty atau Alacritty.

Cara instal di Ubuntu:

  1. Perbarui daftar package.
    sudo apt update
  2. Instal Tilix.
    sudo apt install tilix
  3. (Opsional) Jadikan Tilix sebagai terminal default lewat menu Settings > Default Applications, atau jalankan perintah berikut.
    sudo update-alternatives --config x-terminal-emulator

3. Terminator

Terminator dirancang khusus untuk kebutuhan multitasking berat: kita bisa membagi satu jendela jadi grid pane tanpa batas jumlah, lalu mengirim input yang sama ke banyak pane sekaligus lewat fitur broadcast. Fitur ini sangat membantu sysadmin yang perlu menjalankan perintah identik di beberapa server melalui SSH secara bersamaan.

Kelebihan:

  • Grid split pane paling fleksibel dibanding kebanyakan terminal lain di daftar ini.
  • Fitur broadcast input ke banyak pane jadi solusi praktis untuk operasi paralel di banyak server.
  • Konfigurasi lewat GUI cukup lengkap untuk profil, keybinding, dan layout.

Kekurangan:

  • Tampilan antarmuka terasa jadul dibanding Ptyxis atau Ghostty yang mengikuti desain modern.
  • Pengembangan berjalan lambat, jadi fitur baru jarang muncul dibanding terminal yang lebih aktif dikembangkan.

Cara instal di Ubuntu:

  1. Perbarui daftar package.
    sudo apt update
  2. Instal Terminator.
    sudo apt install terminator
  3. Buka lewat menu aplikasi, atau atur sebagai default lewat update-alternatives seperti pada Tilix.

4. Kitty

Kitty adalah terminal GPU-accelerated yang menawarkan kombinasi performa tinggi dan fitur lengkap. Selain tab dan split pane native, Kitty mendukung kitty graphics protocol, protokol khusus yang memungkinkan gambar (bahkan preview PDF atau video) ditampilkan langsung di dalam terminal, bukan cuma teks.

Kelebihan:

  • Rendering cepat karena memanfaatkan GPU lewat OpenGL.
  • Tab dan split pane native tanpa harus bergantung pada tmux.
  • Scripting kuat lewat remote control protocol, cocok untuk otomatisasi layout terminal.
  • Mendukung protokol grafis sehingga bisa menampilkan gambar langsung di terminal.

Kekurangan:

  • Konfigurasi murni berbasis file teks (kitty.conf), jadi kurva belajarnya lebih tinggi dibanding terminal yang punya GUI settings lengkap.

Cara instal di Ubuntu:

  1. Instal lewat apt.
    sudo apt install kitty
  2. Atau gunakan installer resmi dari Kitty untuk mendapat versi paling baru.
    curl -L https://sw.kovidgoyal.net/kitty/installer.sh | sh /dev/stdin
  3. Jalankan dengan mengetik kitty di terminal, atau cari lewat menu aplikasi setelah instalasi selesai.

5. Alacritty

Alacritty memosisikan diri sebagai terminal paling ringan dan cepat di antara semua alternatif GPU-accelerated. Filosofi desainnya sengaja minimalis, bahkan tidak menyediakan tab atau split pane bawaan, karena tim pengembangnya percaya fitur seperti itu lebih baik diserahkan ke multiplexer khusus seperti tmux.

Kelebihan:

  • Performa render teks jadi salah satu yang tercepat di kelas GPU-accelerated terminal.
  • Konfigurasi lewat file alacritty.toml yang ringkas dan mudah dipahami.
  • Cocok dipasangkan dengan tmux untuk workflow yang butuh split pane sekaligus performa maksimal.

Kekurangan:

  • Tidak ada tab atau split pane native, jadi wajib dikombinasikan dengan tmux atau screen untuk kebutuhan itu.
  • Minim fitur visual seperti dukungan gambar di terminal atau tema built-in yang banyak.

Cara instal di Ubuntu:

  1. Perbarui package list.
    sudo apt update
  2. Instal Alacritty.
    sudo apt install alacritty
  3. Konfigurasi ada di ~/.config/alacritty/alacritty.toml, buat file ini secara manual jika belum ada.

6. Ghostty

Ghostty adalah terminal modern berbasis GPU yang dibuat oleh Mitchell Hashimoto, pendiri HashiCorp. Fokus utamanya adalah performa tinggi dengan konfigurasi minim, sehingga pengguna baru bisa langsung pakai tanpa banyak setup.

Kelebihan:

  • Performa cepat berkat GPU acceleration, dengan default konfigurasi yang sudah nyaman dipakai.
  • Tampilan mengikuti gaya native tiap platform, dan tersedia cross-platform (Linux dan macOS).
  • Mendukung kitty graphics protocol, jadi kompatibel dengan tool yang sudah dibuat untuk Kitty.

Kekurangan:

  • Dukungan resmi di Ubuntu masih terbatas. Ghostty memang sudah masuk repository Ubuntu 26.04 LTS, tapi statusnya ada di bagian universe, bukan main, sehingga tidak mendapat pembaruan rutin langsung dari Canonical.
  • Ekosistem plugin dan tema belum sebanyak Kitty, karena proyeknya relatif baru dibanding terminal lain di daftar ini.
  • Versi di apt bisa tertinggal dari rilis terbaru Ghostty, jadi perlu dicek ulang jika butuh fitur paling baru.

Cara instal di Ubuntu:

  1. Untuk Ubuntu 26.04 LTS ke atas, instal langsung lewat apt.
    sudo apt install ghostty
  2. Untuk mendapat versi lebih baru atau di Ubuntu versi lebih lama, gunakan Snap.
    sudo snap install ghostty --classic
  3. Alternatif lain adalah paket .deb dari repository komunitas mkasberg/ghostty-ubuntu yang mengikuti rilis resmi Ghostty lebih cepat dibanding repository Ubuntu.

7. Guake

Guake adalah terminal bergaya drop-down (quake-style) yang muncul dari atas layar begitu tombol shortcut ditekan, lalu sembunyi lagi begitu ditekan sekali lagi. Guake bukan pengganti terminal utama, tapi pelengkap untuk akses cepat tanpa harus alt-tab mencari jendela terminal yang sedang terbuka.

Kelebihan:

  • Akses instan lewat satu shortcut keyboard, cocok untuk perintah cepat di sela pekerjaan lain.
  • Ringan dan berjalan di background tanpa memakan banyak resource.

Kekurangan:

  • Bukan pengganti terminal utama karena fiturnya minim dibanding Kitty, Tilix, atau Terminator.
  • Lebih cocok dipakai berdampingan dengan terminal lain, bukan sebagai satu-satunya terminal yang dipakai sehari-hari.

Cara instal di Ubuntu:

  1. Instal lewat apt.
    sudo apt install guake
  2. Atau lewat Snap jika ingin update otomatis.
    sudo snap install guake
  3. Setelah instalasi, jalankan Guake sekali lewat menu aplikasi agar ikonnya muncul di system tray, lalu atur shortcut lewat menu Preferences.

3. Tabel Perbandingan

NamaGPU AcceleratedSplit/Tab NativeKustomisasiMetode InstalCocok untuk
PtyxisTidakTab (split pane terbatas)GUI settings, ramah pemulaapt (default di Ubuntu 26.04) / flatpakTransisi mudah dari GNOME Terminal, workflow container
TilixTidakYa, drag-and-dropGUI + tema GTKaptIntegrasi tema GNOME dan tiling
TerminatorTidakYa, grid tak terbatasGUI lengkapaptMultitasking banyak pane dan broadcast ke server
KittyYaYa, nativeFile konfigurasi teksapt / installer resmiFitur terlengkap plus tampilan gambar di terminal
AlacrittyYaTidak, butuh tmuxFile TOML ringkasaptPerforma tercepat dan paling ringan
GhosttyYaYa, nativeFile konfigurasi teks, minim setupapt (universe) / snap / deb komunitasTampilan modern dengan konfigurasi minim
GuakeTidakDrop-down, bukan tilingGUI Preferencesapt / snapAkses cepat sewaktu-waktu

4. Rekomendasi Sesuai Kebutuhan

  • Paling mirip GNOME Terminal, transisi paling mudah: Ptyxis, terutama karena sudah jadi default di Ubuntu 26.04 LTS.
  • Integrasi tema GNOME plus tiling: Tilix.
  • Multitasking banyak pane sekaligus: Terminator.
  • Fitur terlengkap dan bisa menampilkan gambar di terminal: Kitty.
  • Performa tercepat dan paling ringan: Alacritty.
  • Tampilan modern dengan konfigurasi minim: Ghostty.
  • Akses cepat sewaktu-waktu lewat drop-down: Guake.

5. Kesimpulan

Tidak ada satu terminal yang benar-benar terbaik untuk semua orang. Pilihannya tergantung prioritas kita: kalau ingin transisi paling mulus dari GNOME Terminal, Ptyxis adalah jawaban paling masuk akal karena sudah jadi standar baru di Ubuntu 26.04 LTS. Kalau prioritasnya performa mentah, Alacritty atau Kitty jauh lebih unggul lewat GPU acceleration. Sementara untuk sysadmin yang mengelola banyak server sekaligus, Terminator dengan fitur broadcast-nya masih sulit tergantikan.

Coba salah satu dari tujuh alternatif ini sesuai kebutuhan kita masing-masing, lalu bandingkan langsung pengalamannya dengan GNOME Terminal.

6. Pertanyaan Umum

Apakah GNOME Terminal akan dihapus dari Ubuntu?

GNOME Terminal tidak dihapus, tapi statusnya sebagai aplikasi default sudah digantikan Ptyxis sejak Ubuntu 26.04 LTS. Kita masih bisa menginstalnya lewat apt jika lebih nyaman memakainya.

Apa terminal tercepat dan paling ringan untuk Ubuntu?

Alacritty umumnya jadi pilihan tercepat dan paling ringan berkat GPU acceleration dan filosofi desain yang minimalis, meski harus dikombinasikan dengan tmux untuk mendapat fitur split pane.

Apakah Alacritty punya tab bawaan?

Tidak. Alacritty sengaja tidak menyediakan tab atau split pane native. Untuk kebutuhan itu, kita perlu memasangkannya dengan terminal multiplexer seperti tmux atau screen.

Bagaimana cara mengatur terminal default di Ubuntu?

Setelah terminal pilihan terinstal, jalankan sudo update-alternatives --config x-terminal-emulator lalu pilih nomor sesuai terminal yang diinginkan. Untuk pengguna GNOME, opsi ini juga bisa diatur lewat menu Settings > Default Applications jika terminal tersebut mendukungnya.

Tutorial ini membantu? Traktir kami segelas kopi agar kami tetap semangat menulis panduan open source lainnya!

Traktir Kopi

Related Posts