Penangkapan Hacker China di Singapura Ungkap Jaringan Botnet Terbesar di Dunia

Penangkapan Hacker China di Singapura Ungkap Jaringan Botnet Terbesar di Dunia
Photo by Clint Patterson / Unsplash

Dalam sebuah operasi internasional yang dipimpin oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ), Yunhe Wang, seorang hacker asal China berusia 35 tahun, berhasil ditangkap di Singapura pada 24 Mei 2024. Wang diduga menjadi dalang di balik jaringan botnet "911 S5" yang menginfeksi 19 juta komputer di hampir 200 negara.

Botnet, yang mengendalikan komputer-komputer korban tanpa sepengetahuan mereka, digunakan untuk berbagai aktivitas kriminal seperti pencurian identitas, eksploitasi anak, dan penipuan finansial. DOJ mengungkapkan bahwa botnet ini juga berperan dalam pengajuan lebih dari 500.000 klaim asuransi pengangguran palsu terkait program bantuan COVID-19 di Amerika Serikat, menyebabkan kerugian sebesar 5,9 miliar dolar AS.

Operasi penangkapan Wang melibatkan kerjasama antara FBI, kepolisian Singapura, dan berbagai badan penegak hukum internasional. Wang diyakini mengelola botnet ini dari sekitar 150 server yang tersebar di berbagai negara, menjual akses ke jaringan komputer yang terinfeksi kepada para penjahat dunia maya. Keuntungan yang diperoleh dari aktivitas ilegal ini diperkirakan mencapai 99 juta dolar AS, yang kemudian digunakan untuk membeli properti dan barang mewah di berbagai negara termasuk Amerika Serikat, Singapura, Thailand, Uni Emirat Arab, dan St. Kitts and Nevis.

Barang-barang mewah yang disita dalam operasi penangkapan meliputi mobil sport Ferrari, Rolls-Royce, dua BMW, serta beberapa jam tangan mewah. Selain itu, rekening bank dan dompet cryptocurrency Wang juga dibekukan. DOJ juga mencatat bahwa Wang menggunakan beberapa perusahaan cangkang untuk menyembunyikan identitas dan aktivitas kriminalnya.

Europol turut mengumumkan penangkapan beberapa pemimpin jaringan kejahatan siber di Armenia dan Ukraina serta penyitaan lebih dari 2.000 situs web yang digunakan untuk aktivitas kriminal. Delapan tersangka lain yang terlibat dalam kejahatan ini masih buron dan akan dimasukkan dalam daftar "most wanted" di Eropa.

Wang menghadapi dakwaan konspirasi untuk melakukan penipuan komputer, konspirasi untuk melakukan penipuan melalui internet, dan konspirasi untuk melakukan pencucian uang. Jika terbukti bersalah, ia bisa menghadapi hukuman hingga 65 tahun penjara.

Penangkapan ini menegaskan komitmen internasional dalam memerangi kejahatan siber dan menunjukkan bahwa hukum dapat menjangkau para pelaku kejahatan, bahkan di dunia maya yang gelap. Wakil Asisten Jaksa Agung DOJ, Nicole Argentieri, menyatakan bahwa operasi ini adalah salah satu yang terbesar dan paling signifikan dalam sejarah pemberantasan botnet, menggarisbawahi pentingnya kerjasama global dalam menanggulangi ancaman kejahatan siber.