Instalasi Ubuntu Server 26.04 LTS

Instalasi Ubuntu Server 26.04 LTS

Bitnesia Aug 25, 2026 2 EN

Setelah pada Bab 1 kita mengenal karakteristik dunia server dan hal-hal baru di Ubuntu Server 26.04 LTS, saatnya kita masuk ke tahap praktik: memasang sistem operasi dari nol. Instalasi Ubuntu Server sekilas terlihat sederhana, tetapi setiap pilihan yang kita ambil di sini, mulai dari skema partisi sampai konfigurasi jaringan, akan menentukan seberapa mudah server ini dikelola ke depannya. Sysadmin yang berpengalaman tahu bahwa kesalahan kecil pada tahap instalasi sering kali baru terasa dampaknya berbulan-bulan kemudian, saat server sudah digunakan untuk produksi.

Pada bab ini, kita akan menginstal Ubuntu Server 26.04 LTS "Resolute Raccoon" dari nol, mulai dari persiapan media instalasi sampai server siap diakses melalui SSH. Semua langkah di bab ini menggunakan installer resmi Ubuntu Server, sehingga kita bisa langsung berpraktik baik di komputer fisik, virtual machine, maupun cloud.

1. Persiapan Instalasi

1.1 Spesifikasi Minimum

Sebelum mulai, kita perlu memastikan hardware yang digunakan memenuhi spesifikasi minimum. Berdasarkan dokumentasi resmi Ubuntu Server, kebutuhan resource-nya jauh lebih ringan dibandingkan Ubuntu Desktop karena tidak ada desktop environment yang perlu dijalankan.

Jenis InstalasiRAM MinimumStorage MinimumRAM DisarankanStorage Disarankan
ISO Server (instalasi biasa)1.5 GB5 GB3 GB atau lebih25 GB atau lebih
Cloud image1 GB4 GB3 GB atau lebih25 GB atau lebih

Angka minimum di atas cukup untuk server yang benar-benar ringan, misalnya sekadar menjalankan satu service kecil. Saat kita mulai menjalankan database atau beberapa container sekaligus, kebutuhan RAM dan storage tentu akan meningkat jauh dari angka minimum ini. Sebagai patokan praktik, Sysadmin di lapangan biasanya menyiapkan minimal 2 vCPU, 4 GB RAM, dan 20 GB storage untuk server produksi kelas pemula.

1.2 ISO Server vs Live Server Installer (Subiquity)

Ubuntu Server 26.04 LTS menggunakan Subiquity sebagai installer resminya. Subiquity adalah installer berbasis teks (text-based UI) yang menggantikan installer lama debian-installer. Meskipun tampilannya sederhana dan berbasis teks, navigasinya cukup intuitif. Kita tinggal menggunakan tombol panah, Tab, dan Enter untuk berpindah antaropsi.

Hanya ada satu jenis ISO untuk Ubuntu Server, yaitu live server installer. Berbeda dengan Ubuntu Desktop yang memiliki opsi "Try Ubuntu" untuk mencoba tanpa instalasi, ISO Server langsung mengarahkan kita ke proses instalasi begitu melakukan boot.

1.3 Membuat Bootable USB

Setelah kita mengunduh ISO Ubuntu Server 26.04 LTS dari situs resmi ubuntu.com/download/server, langkah berikutnya adalah membuat media instalasi bootable. Untuk instalasi di komputer fisik (bare metal), kita perlu memindahkan ISO ke USB flashdisk.

  • Di Windows, gunakan tool seperti Rufus.
  • Di macOS, gunakan balenaEtcher.
  • Di Linux, kita bisa menggunakan perintah dd langsung dari terminal.

Berikut adalah contoh membuat bootable USB dari Linux dengan dd (ganti /dev/sdX dengan device flashdisk yang benar, cek terlebih dahulu dengan lsblk supaya tidak salah menimpa disk):

lsblk
sudo dd if=ubuntu-26.04-live-server-amd64.iso of=/dev/sdX bs=4M status=progress oflag=sync

Apabila target instalasi berupa virtual machine, langkah ini bisa dilewati. File ISO cukup dipasang langsung sebagai virtual optical drive di VirtualBox, KVM, atau hypervisor lain.

2. Instalasi Langkah demi Langkah dengan Subiquity

Lakukan boot pada komputer atau VM dari media instalasi tadi, lalu ikuti alur berikut. Alur ini konsisten digunakan oleh Subiquity di berbagai arsitektur (amd64, arm64, dan lainnya), meskipun tampilan detail bisa sedikit berbeda tergantung versi.

2.1 Bahasa, Keyboard, dan Update Installer

Layar pertama meminta kita memilih bahasa antarmuka installer (pilih English supaya istilah teknis tidak diterjemahkan secara tidak wajar), lalu layout keyboard. Subiquity biasanya juga menawarkan update untuk installer itu sendiri jika terdeteksi koneksi internet. Kita bisa memilih untuk memperbarui atau melanjutkan dengan versi installer yang ada di dalam ISO.

2.2 Konfigurasi Jaringan saat Instalasi

Subiquity mendeteksi secara otomatis interface jaringan yang tersedia. Jika ada DHCP server di jaringan (umum terjadi di lab atau VM dengan NAT/bridge), IP otomatis didapatkan dan kita tinggal melanjutkan. Untuk server produksi, Sysadmin biasanya langsung mengatur IP statis pada tahap ini agar alamat server tidak berubah-ubah setelah reboot.

Pada layar konfigurasi jaringan, pilih interface yang aktif (misalnya enp0s3), lalu pilih Edit IPv4 untuk mengganti dari Automatic (DHCP) ke Manual. Isi subnet, address, gateway, dan name server sesuai dengan kebutuhan jaringan kita. Konfigurasi jaringan lebih lanjut melalui Netplan akan kita bahas secara mendalam pada Bab 8.

2.3 Partisi Disk: Guided vs Manual (LVM by Default)

Tahap ini merupakan salah satu tahap paling krusial. Subiquity menawarkan dua jalur:

  • Guided storage configuration: installer secara otomatis membuat skema partisi. Sejak beberapa rilis LTS terakhir, opsi guided ini menggunakan LVM (Logical Volume Manager) sebagai skema default, bukan partisi ext4 biasa.
  • Manual (custom storage layout): kita mengatur sendiri setiap partisi, ukuran, dan filesystem-nya. Opsi ini cocok untuk kebutuhan khusus, misalnya memisahkan partisi /var untuk log server yang besar, atau menyiapkan RAID software.

Mengapa LVM menjadi default? Penyebabnya adalah LVM memberikan fleksibilitas untuk mengubah ukuran (resize) volume tanpa perlu downtime, yaitu suatu hal yang sangat berharga pada server produksi yang datanya terus berkembang. Detail lengkap mengenai LVM, mulai dari physical volume sampai snapshot, akan kita bahas secara tuntas pada Bab 7. Untuk latihan pada bab ini, pilih Use an entire disk dengan opsi Set up this disk as an LVM group agar kita mulai terbiasa dengan skema ini sejak awal.

2.4 Pembuatan Akun Pengguna di Awal Proses

Berbeda dari beberapa distro lain, Ubuntu Server membuat akun pengguna langsung di tengah proses instalasi, bukan setelah reboot. Kita akan diminta untuk mengisi:

  • Nama lengkap
  • Your server's name: hostname server
  • Pick a username: username login
  • Password (diketik dua kali untuk konfirmasi)

Akun ini secara otomatis masuk ke group sudo, sehingga bisa langsung menjalankan perintah administratif setelah login. Sebagai catatan, akun root di Ubuntu Server tidak diaktifkan secara default, sesuai dengan prinsip keamanan yang akan kita bahas lebih dalam di Bagian VIII.

Subiquity juga menawarkan opsi Import SSH identity dari GitHub atau Launchpad. Jika kita sudah memiliki SSH key yang terdaftar di akun GitHub, opsi ini langsung mengambil public key tersebut sehingga server siap diakses melalui SSH berbasis key sejak instalasi pertama, tanpa perlu setup manual lagi. Perlu dicatat, mengimpor SSH key di tahap ini tidak otomatis mematikan login SSH berbasis password. Login dengan password tetap aktif berdampingan dengan key, sehingga kita masih perlu menonaktifkannya secara manual di sshd_config jika ingin server hanya menerima autentikasi berbasis key. Detail hardening SSH ini akan kita bahas di Bab 3.

2.5 Instalasi Driver Otomatis (OEM/HWE Kernel)

Server terkadang membutuhkan dukungan hardware yang lebih baru daripada yang disediakan oleh kernel GA (General Availability) bawaan rilis LTS. Di sinilah OEM kernel dan HWE (Hardware Enablement) kernel berperan. Keduanya adalah varian kernel dengan dukungan hardware yang lebih baru dibandingkan kernel GA standar.

Mulai Ubuntu Server 26.04 LTS, Subiquity mendeteksi hardware secara otomatis saat instalasi dan memasang paket OEM atau HWE yang cocok jika memang dibutuhkan. Fitur ini sebelumnya hanya berlaku di Ubuntu Desktop. Sysadmin yang lebih memilih tetap menggunakan kernel GA standar demi kestabilan jangka panjang, terutama pada server produksi yang mengutamakan predictability dibandingkan fitur hardware terbaru, bisa menonaktifkan perilaku ini. Langkah pastinya belum sempat kami verifikasi ke dokumentasi resmi terbaru, jadi cek dulu release notes Subiquity 26.04 sebelum mengandalkan opsi ini di server produksi.

2.6 Konfirmasi dan Proses Instalasi

Setelah semua opsi terisi, Subiquity menampilkan ringkasan konfigurasi sebelum benar-benar menuliskan data ke disk. Periksa ulang sekali lagi pada bagian storage, karena setelah tahap ini disk akan diformat dan data lama (jika ada) akan hilang. Proses instalasi berjalan secara otomatis, sedangkan lamanya waktu tergantung pada kecepatan storage dan koneksi internet untuk mengunduh pembaruan paket.

# Setelah instalasi selesai, installer akan menampilkan pesan:
Installation complete!
# Lepas media instalasi (USB/ISO), lalu pilih Reboot Now

3. Instalasi Minimal vs Instalasi dengan Snap Bawaan

Pada tahap pemilihan software (server profile), Subiquity menawarkan opsi minimal installation dan opsi untuk menambahkan beberapa snap populer secara langsung, seperti openssh-server, docker, atau nextcloud.

Untuk kebutuhan produksi, sebagian besar Sysadmin memilih minimal installation lalu menambahkan paket satu per satu sesuai dengan kebutuhan. Alasannya sederhana, yaitu prinsip minimal attack surface. Semakin sedikit software yang terpasang, semakin kecil celah keamanan yang harus dijaga. Prinsip ini akan kita bahas lebih detail pada Bab 30. Jika memang membutuhkan OpenSSH server untuk akses remote (hampir selalu dibutuhkan), centang opsi Install OpenSSH server pada tahap ini agar tidak perlu mencolokkan monitor lagi setelah reboot.

4. Opsi Instalasi Lain

4.1 Instalasi di Virtual Machine (VirtualBox/KVM)

Untuk latihan dalam series ini, instalasi melalui virtual machine jauh lebih praktis dibandingkan bare metal. Langkah umumnya adalah sebagai berikut:

  1. Buat VM baru di VirtualBox atau KVM, lalu alokasikan minimal 2 GB RAM dan 20 GB storage untuk pengalaman yang nyaman.
  2. Pasang file ISO Ubuntu Server 26.04 LTS sebagai virtual optical drive.
  3. Lakukan boot pada VM, lalu ikuti alur instalasi Subiquity seperti yang sudah kita bahas di atas.
  4. Setelah instalasi selesai, lepas ISO dari virtual optical drive sebelum melakukan reboot agar VM tidak melakukan boot ulang ke installer.

Sysadmin di lingkungan pengembangan sering menggunakan VM seperti ini untuk bereksperimen sebelum konfigurasi diterapkan ke server produksi yang sebenarnya.

4.2 Cloud Image dan cloud-init: Pengenalan Konsep

Selain ISO, Ubuntu juga menyediakan cloud image, yaitu image sistem yang sudah pre-built khusus untuk platform cloud seperti AWS, Azure, GCP, atau hypervisor seperti KVM/OpenStack. Cloud image tidak melalui proses instalasi interaktif seperti Subiquity. Sebagai gantinya, cloud-init langsung mem-boot dan mengonfigurasi sistem secara otomatis begitu instance menyala.

Secara singkat, cloud-init adalah tool standar industri yang membaca konfigurasi awal (user, SSH key, hostname, serta paket yang perlu diinstal) dari file metadata yang disediakan oleh platform cloud, lalu menerapkannya secara otomatis saat instance pertama kali menyala. Karena cloud-init menjadi topik besar tersendiri dengan banyak use case otomasi, kita akan membahasnya secara tuntas pada Bab 37. Untuk saat ini, cukup pahami bahwa cloud image adalah jalur instalasi yang lebih cocok digunakan di lingkungan cloud dan environment otomatis (Infrastructure as Code), dibandingkan ISO installer yang lebih cocok untuk instalasi manual.

Verifikasi & Troubleshooting

Setelah server mengalami reboot dan berhasil login (baik melalui console maupun SSH), lakukan beberapa pengecekan dasar untuk memastikan instalasi berjalan mulus.

# Cek versi Ubuntu yang terpasang
lsb_release -a

# Cek kernel yang berjalan (termasuk memastikan HWE/OEM kernel aktif bila relevan)
uname -r

# Cek konfigurasi IP address
ip a

# Cek sisa storage dan skema partisi/LVM
df -h
sudo lvs

Beberapa masalah umum yang biasa ditemui oleh Sysadmin pemula pada tahap ini:

  • Server tidak mendapatkan IP address. Periksa apakah DHCP tersedia di jaringan, atau apakah konfigurasi IP statis saat instalasi sudah benar (subnet dan gateway sering kali salah ketik).
  • Tidak bisa melakukan SSH ke server. Pastikan opsi Install OpenSSH server tercentang saat instalasi. Jika terlewat, service ini masih bisa dipasang secara manual melalui apt install openssh-server lewat akses console.
  • VM tetap boot ke installer setelah reboot. Keadaan ini biasanya terjadi karena ISO instalasi belum dilepas dari virtual optical drive. Periksa pengaturan boot order di hypervisor.

Server kini sudah terinstal dan bisa diakses, sehingga kita siap melanjutkan ke Bab 3 untuk memperdalam akses remote melalui SSH. Bab ini juga akan membahas hardening konfigurasi awal agar server tidak mudah menjadi target Attacker dari luar.