Layanan cloud storage pihak ketiga memang praktis, tapi ada harga yang harus dibayar: kuota terbatas, biaya berlangganan bulanan, dan file kita ikut tersimpan di server orang lain. Buat sysadmin atau developer yang terbiasa mengelola data sendiri, ketergantungan semacam ini terasa janggal. Untungnya ada Syncthing, aplikasi sinkronisasi file yang bekerja langsung antarperangkat tanpa server pusat. Artikel ini membahas cara kerja Syncthing, kelebihan dan kekurangannya, sampai langkah instalasi dan konfigurasi dari nol.
Apa itu Syncthing
Syncthing adalah aplikasi open source untuk menyinkronkan file secara continuous antara dua perangkat atau lebih, tanpa melewati server pihak ketiga. Semua proses berjalan secara peer-to-peer (P2P): data mengalir langsung dari satu perangkat ke perangkat lain begitu ada perubahan file, baik lewat jaringan lokal maupun internet.
Karena tidak ada server perantara yang menyimpan salinan data kita, model ini otomatis menghilangkan risiko privasi yang biasa muncul di layanan cloud komersial pihak ketiga. Kita juga tidak dibatasi kuota penyimpanan tertentu, kecuali kapasitas storage perangkat sendiri.
Cara Kerja Syncthing
Untuk memahami kenapa Syncthing aman digunakan, kita perlu tahu dua mekanisme intinya: cara perangkat saling terhubung, dan cara komunikasi itu diamankan.
Koneksi Peer-to-Peer
Saat dua perangkat dipasangkan, Syncthing membuat koneksi langsung antarkeduanya melalui protokol bernama Block Exchange Protocol (BEP). Protokol ini memecah file menjadi blok-blok kecil, lalu menyalin hanya blok yang berubah setiap kali ada modifikasi. Pendekatan ini membuat proses sinkronisasi jauh lebih efisien dibanding menyalin ulang seluruh file setiap kali ada perubahan.
Kalau kedua perangkat berada di jaringan Wi-Fi atau LAN yang sama, transfer file berjalan lokal, sangat cepat, dan tidak memakan kuota internet sama sekali.
Keamanan dan Privasi
Setiap perangkat yang menjalankan Syncthing punya pasangan kunci publik-privat unik berbasis Ed25519. Dari kunci publik itu, Syncthing menghitung hash SHA-256 lalu meng-encode-nya jadi string yang disebut Device ID, misalnya MFZWI3D-BONSGYC-YLTMRWG-C43ENR5-QXGZDMM-FZWI3DP-BONSGYY-LTMRWAD. Device ID inilah yang kita bagikan ke perangkat lain saat ingin memasangkannya, bukan username atau password.
Koneksi antarperangkat dilindungi lewat handshake TLS, di mana kedua pihak saling menukar dan memverifikasi sertifikat sebelum data mulai dikirim. Karena verifikasi identitas berbasis Device ID dan sertifikat inilah, perangkat yang tidak kita tambahkan secara eksplisit tidak akan bisa ikut sinkronisasi meski berada di jaringan yang sama.
Komunitas dan Ekosistem
Status open source membuat kode Syncthing bisa diaudit siapa saja, dan pengembangannya didukung komunitas aktif di repository GitHub Syncthing. Transparansi ini penting buat sysadmin yang mengelola data sensitif, karena kita tidak perlu percaya begitu saja pada klaim keamanan vendor tertutup.
Kelebihan dan Kekurangan Syncthing
Sebelum memutuskan pakai Syncthing untuk kebutuhan harian atau infrastruktur kantor, ada baiknya kita timbang dulu sisi baik dan tantangannya.
Kelebihan Syncthing
- Gratis dan bebas kuota berlangganan: kapasitas penyimpanan sepenuhnya tergantung storage perangkat sendiri, tidak ada biaya bulanan.
- Privasi maksimal: data tidak pernah singgah di server pihak ketiga karena model P2P-nya.
- Hemat bandwidth di jaringan lokal: sinkronisasi antarperangkat dalam satu LAN/Wi-Fi berjalan cepat tanpa menyentuh kuota internet.
- Kustomisasi tinggi: ada fitur file versioning, ignore patterns untuk mengecualikan file/folder tertentu, dan pengaturan bandwidth limit.
Kekurangan Syncthing
- Kedua perangkat harus menyala: sinkronisasi hanya berjalan kalau perangkat pengirim dan penerima sama-sama aktif dan terhubung.
- Kurang ramah pemula: antarmuka berbasis Web GUI butuh sedikit waktu adaptasi dibanding aplikasi cloud konvensional yang tinggal klik.
- Tidak ada fitur link sharing: Syncthing dirancang untuk sinkronisasi antarperangkat milik kita sendiri, bukan untuk membagikan file ke publik lewat tautan.
Instalasi di Berbagai Sistem Operasi
Untuk mengunduh installer resmi, selalu gunakan halaman Downloads Syncthing agar terhindar dari berkas modifikasi pihak tidak dikenal.
Instalasi di Windows
- Unduh Syncthing Windows Setup dari halaman downloads resmi, atau gunakan GUI wrapper pihak ketiga seperti SyncTrayzor v2 kalau ingin Syncthing berjalan sebagai service di background lengkap dengan ikon tray. Pilih versi v2 ini karena SyncTrayzor versi asli sudah dinyatakan unmaintained oleh pembuatnya.
- Jalankan installer dan ikuti proses instalasi seperti aplikasi Windows pada umumnya.
- Supaya Syncthing otomatis berjalan saat komputer startup, aktifkan opsi start automatically di SyncTrayzor v2, atau tambahkan shortcut aplikasi ke folder Startup Windows.
Instalasi di macOS
- Unduh paket
syncthing-macosdari halaman downloads resmi, lalu pasang seperti aplikasi macOS umumnya. - Sebagai alternatif, sysadmin yang terbiasa dengan package manager bisa memasang lewat Homebrew:
brew install syncthing - Saat pertama dijalankan, macOS mungkin meminta izin akses jaringan dan folder tertentu (System Permissions). Izinkan akses ini agar proses sinkronisasi folder berjalan normal.
Instalasi di Debian/Ubuntu
Syncthing memang sudah tersedia di repository bawaan Debian/Ubuntu, tapi versinya sering tertinggal beberapa rilis. Supaya dapat versi paling baru dan update lebih cepat, sysadmin sebaiknya memasang lewat repository resmi apt.syncthing.net. Repository ini menyediakan beberapa channel, salah satunya stable-v2 yang berisi rilis stabil dan biasanya diperbarui tiap Selasa pertama setiap bulan.
- Buat direktori keyring lalu unduh kunci GPG resmi Syncthing untuk verifikasi keaslian paket:
sudo mkdir -p /etc/apt/keyrings sudo curl -L -o /etc/apt/keyrings/syncthing-archive-keyring.gpg https://syncthing.net/release-key.gpg - Daftarkan repository apt.syncthing.net dengan channel
stable-v2:echo "deb [signed-by=/etc/apt/keyrings/syncthing-archive-keyring.gpg] https://apt.syncthing.net/ syncthing stable-v2" | sudo tee /etc/apt/sources.list.d/syncthing.list - Perbarui daftar paket, lalu pasang Syncthing:
sudo apt-get update sudo apt-get install syncthing - Opsional, kalau distro sudah punya paket
syncthingversi lawas dan kita ingin memastikan apt selalu memprioritaskan repository resmi ini, tambahkan file pinning:printf "Package: *\nPin: origin apt.syncthing.net\nPin-Priority: 990\n" | sudo tee /etc/apt/preferences.d/syncthing.pref
Setelah paket terpasang, aktifkan Syncthing sebagai systemd service. Untuk penggunaan desktop, jalankan sebagai service milik user, aktif setelah user login:
systemctl --user enable syncthing.service
systemctl --user start syncthing.serviceKalau Syncthing dipasang di server tanpa sesi login interaktif, gunakan system service agar tetap berjalan sejak boot:
systemctl enable [email protected]
systemctl start [email protected]Cek statusnya lewat journalctl kalau ada kendala, karena systemd mencatat seluruh log Syncthing ke journal.
Instalasi di Distro Linux Lain
Selain Debian/Ubuntu, Syncthing juga tersedia di package manager bawaan banyak distro lain, misalnya pacman -S syncthing di Arch Linux. Langkah mengaktifkan systemd service-nya sama seperti di Debian/Ubuntu.
Instalasi di Android
Perlu dicatat, aplikasi resmi Syncthing-Android sudah dinyatakan discontinued oleh pengembangnya sejak Desember 2024, dan repositorinya kini bersifat arsip read-only. Sysadmin atau user yang tetap ingin menyinkronkan perangkat Android disarankan menggunakan aplikasi fork komunitas seperti Syncthing-Fork, yang tersedia lewat F-Droid maupun GitHub Releases dan pengembangannya masih aktif dilanjutkan komunitas. Sebelum memasang, cek dulu status terbaru proyek fork tersebut karena ekosistem open source semacam ini bisa berubah sewaktu-waktu.
Menghubungkan Perangkat dan Sinkronisasi
Setelah Syncthing terpasang di dua perangkat atau lebih, langkah berikutnya adalah memasangkan perangkat itu satu sama lain dan membuat folder yang mau disinkronkan.
- Buka Web GUI Syncthing (biasanya di
http://localhost:8384), lalu salin Device ID milik perangkat itu dari menu Actions > Show ID. - Di perangkat kedua, klik Add Remote Device, lalu tempelkan Device ID dari perangkat pertama. Konfirmasi permintaan pairing yang muncul di kedua perangkat.
- Buat folder baru lewat tombol Add Folder, tentukan path lokal yang ingin disinkronkan, lalu centang perangkat mana saja yang boleh ikut berbagi folder tersebut (Share Folder).
- Pantau status sinkronisasi di dashboard: Up to Date berarti semua file sudah sama persis di semua perangkat, Syncing berarti masih ada transfer berjalan, dan Idle berarti Syncthing menunggu perubahan file baru.
Kesimpulan
Syncthing cocok buat siapa saja yang peduli privasi data, sysadmin dan developer yang terbiasa mengelola infrastruktur sendiri, fotografer atau videografer yang butuh backup lokal cepat, sampai user yang ingin membangun "private cloud" tanpa biaya berlangganan. Model P2P dan enkripsi TLS-nya membuat data tetap berada dalam kendali kita sepenuhnya, dengan konsekuensi kedua perangkat harus sama-sama aktif saat proses sinkronisasi berjalan. Untuk panduan konfigurasi lanjutan seperti file versioning atau ignore patterns, kita bisa merujuk langsung ke dokumentasi resmi Syncthing.




